Sekarang Jam ...

WELCOME

Hidup adalah Sebuah Pilihan...

Terbang atau Terinjak...

Minggu, 26 Agustus 2012

Pembandingan dan Pembunuhan Karakter

"Lihat si A, dia itu pintar...blablabla..."
"Lihat si B, dia itu kaya...rajin...blablabla..."
"Lihat si C ..." dan seterusnya sampe Z.
Mungkin kita sering mendengar kalimat diatas, terutama kalangan anak-anak, remaja, dan orangtua muda. Biasanya kita mendengar kata itu dari orang-orang yang kita cintai, kita kasihi, kita sayangi.
Orang-orang itu berharap supaya kita menjadi apa yang mereka inginkan. Tentuna mereka selalu berharap kita menjadi orang yang baik dan benar. Namun masalahnya terkadang dengan perkataan-perkataan seperti diatas, membuat kita patah semangat, putus asa, dan kadang kesal.
Hal itu merupakan sesuatu yang wajar, karena sebagai manusia, tak bisa dipungkiri, kita semua mengharapkan pengakuan orang lain atas kemampuan diri kita, terutama dari orang-orang terdekat kita, sehingga kita selalu berusaha dan belajar untuk unjuk kemampuan di depan orang-orang. Kita tentu akan senang jika ada yang mengakui kemampuan kita dengan pujian, doa, harapan, ataupun hanya sekedar kebanggaan. Sebaliknya kita akan kesal dan sedih jika tak seorang pun yan mengakui kita.
Begitu juga dengan kehidupan nyata, terkadang orangtua kita mengatakan seperti ungkapan diatas tadi"...Harusnya kamu bisa sepeti anaknya pak Fulan, dia berhasil menjadi General Manager di perusahaan."
Kata-kata seperti ini setidaknya menimbulkan 2 efek samping negatif bagi yang menjadi objek atau lawan bicara. Pertama, ia akan merasa tidak diakui, ia merasa semua hasil kerjakeras dan jerihpayahnya seama ini sia-sia. Kedua, ia menjadi kurang percaya diri sebagai akibat dari tidak adanya kepercayan, terlebih dari orang -orang terdekat. Kekurang-PD-an ini membuat orang terkadang menjadi penakut, pemalu, dan susah bergaul. Lalu, yg seperti ini tidak bisakah kita sebut sebagai pembunuhan karakter?
Pembunuhan karakter memang biasanya identik dengan bullying, namun pembandingan-pembandingan seperti di atas tadi juga memiliki efek yang tidak jauh berbeda dengan pembunuhan karakter. Bayangkan saja orang yang sudah berusaha keras untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Terkemuka dengan susah payah untuk membahagiakan kedua orangtuanya, Eh...pas sudah diterima, orangtuanya bilang, " Nak, mendingan kamu masuk Fakultas Pertambangan aja, nanti bisa kaya, nggak kaya dokter, emang dokter bisa kaya?", sang anak yang mendengar kalimat itu tentunya akan merasa sakit hati, seakan semua jeih payahnya selama ini tidak diakui sama sekali. Niat hati ingin membahagiakan, malah menyakitkan.
Kebiasaan pembandingan seperti ini sangat sering terjadi di kehidupan bermasyarakat bahkan berkeuarga, namun banyak yang tidak menyadari hal ini. Alasannya biasanya adalah supaya orang mengetahui contoh jadinya. Tapi sekali lagi saya katakan, alangkah baiknya kita tidak perlu memberikan pembandingan berlebihan saat memberikan pelajaran dan nasehat, cukup dengan penggambaran biasa secara umum saja, karena pada dasarnya dengan membeitahukan pembanding-pembanding itu akan membuat seseorang menjadi berpikir terbatas, jika sudah melewati pembanding, maka tugas selesai dan dia bisa tenang. Coba bayangkan seandainya dia tidak mengetahui, tentu dia akan terus bersaing dan berinovasi untuk terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Oleh karena itu, marilah sebagai orang tua, guru, dan orang yang di'dewasa'kan, kita hindari pembandingan-pembandingan dengan suatu objek khusus saat memberikan pelajaran dan nasehat kepada yang berhak.

TA'ARUF=PACARAN BAIK?

Aku buat tulisan ini sebenernya cma untuk meramaikan demam yg lg nge-trend di Foranza Sillnova, sebenernya mau ditulis di kolom comment-nya tulisan kefin, tp berhubung kayaknya bkalan kebanyakan yaudah tulis aja di blog sndiri.
Jadi sebenernya aku cuma mau ngasih pandangan tentang konsep taaruf yg selama ini aku pegang ya(udah sejak kapan gatau)...gara-gara huda pake nyebut nama, jadi aku jg ikut campur...bukan sok tau atau gmna, karena emang aku sndiri bkan pakar, jd klo ada yg protes ya silakan comment aja...just share...
OK, jd klo menurutku ta'aruf(atau kefin bilang pacaran yg baik itu) sebenernya cma buat ngenalin kita sama calon. ya kelebihan2nya..kekurangan2nya ato yg sejenisnya. 
Nah, dari situ,pertama, kita bisa menentukan apakah DIA adalah orang yg sesuai dgn kita(dalam islam sih nyebutnya sekufu), klo emang COCOK, lanjut ke yang kedua, tp klo gk ya putusnya jgn sampe nyakitin(soalnya cewe emang pake perasaan bgt tiap ngadepin masalah), kedua, biasanya sih klo muslim taat maennya langsung aja. "Udah, kawin sono!..biar gk kejerumus zina", yg begini ni aman sebenernya(suka main aman, gk mau cari risiko), nah tp gk sedikit kok yg nyoba cari pengalaman, biasanya mereka menjalani tadi yang disebut kefin HTS, sebenenya tujuan dari HTS itu adalah pura-pura jadi pasangan, pas gitu kita bisa lebih merasakan hidup berbagi dengan DIA, bisa saling menghargai ato gk, mana yg mau saling dilengkapi, kan ntar bakalan bnyk masalah dan ujian selama HTS, jd makanya klo menurutku sih bener kata kefin"..Hipotesis saya, pacaran yang baik akan meminimalisir perceraian dalam rumah tangga .."karena setelah HTS-an kita bakalan bener-bener siap untuk menikah. kita bener-bener udah bisa saling menerima satu sama lain.
Masalahnya, HTS-an begini, risikonya besar, gk semua orang mau dan bisa melakukan, godaan gk sedikit, ujian gk ringan, masalah gk sepele, salah sedikit saja bsa merusak semua rencana dan ekspektasi kita(ekspektasi sering jauh dari realitas, makanya bnyak orang yg cari aman, pilih opsi lansung maen.
enaknya opsi pertama, kita aman jd seorang muslim, udah halal, gk takut kena zina...tp klo ntar di tengah jalan ada masalah yg agak berat, bakalan rame, mungkin bsa lagsung cerai(langsung kawin langsung cerai;pagi kawin sore cerai..haha).
Contoh sih udah banyak, baru aja hari raya kemaren aku dapet cerita klo saudaraku ada yg begtu...bahkan klo aku bilang orangtuaku pun begitu, cma mereka gk mau cerai meski sering bgt saling "ngamuk" satu sama lain,(curhat...)tp mereka ttp bertahan, mungkin hanya ada 1 dari 234 pasangan kali. Emang jarang yg bsa begitu. butuh skill dan ketahanan.
Sekarang opsi kedua(HTS-an), enaknya bsa ngerasain gmna rasanya pnya kekasih(meski belum pasti, dan masih "pura-pura"),  kita bsa saling mengasihi, melengkapi, curhat-curhat-an, dan lain-lain. Tapi yg begini ni risikonya bsa kena zina kecil. Dosa tetep ada klo kita kelewatan, karena secara status emang belum halal, tp emang klo bsa bertahan, bkalan lebih mantep pas nikah nanti, langgeng dah pokoknya. Klo contoh sih gak tau, soalnya aku belum pernah tau, tp secara logika mesti banyak kok yg setuju(yakin???)
Sebenernya banyak remaja sekarang yang sudah memilih opsi kedua, masalahnya banyak dari mereka yang tidak bisa menahan nafsu(penginnya langsung *******)ujung-ujungnya kena masalah, lari, putus...masalahnya gk bakalan selesai segampang itu, yg cewek bakalan punya kenangan hitam, yg cowo bakalan kena masalah(gk tau dikutuk ortunya, di nikah paksa, ato bahkan bsa bunuh diri), emang gitu sih, makanya cinta itu bukan buta tp MEMBUTAKAN.
jadi sekarang terserah kalian, mau pilih model ta'aruf yang mana, seperti kata Retas"...HIDUP itu PILIHAN", yg pnting siap menanggung risiko, konsekuen, dan bertanggung jawab...Good Luck fren...

Minggu, 12 Agustus 2012

Ironi Reformasi

          Entah apa yang terpikir di benak para broker-broker di Indonesia, setiap kali ada momentum, selalu saja kebiasaan buruk lama yang terulang. Seperti hari raya idul fitri tahun ini, untu menyambut perayaan tahunan hari besar umat islam se-dunia itu, para broker dan spekulan menaikkan harga sembako sedemikian tinggi hingga membuat rakyat kesulitan membeli kebutuhan pokok. Akibatnya, beberapa kegiatan produksi terancam mogok. Bahkan para pengusaha tahu dan tempe di beberapa daerah sudah melakukan aksi mogok produksi tahu dan tempe akibat tingginya harga kedelai sebagai bahan bakunya.

         Sementara itu, pemerintah malah menyerah dan mengaku kalah dari para broker-broker itu, rupanya pemerintah sudah terlampau banyak mengurusi masalah yang selalu tidak kunjung selesai. Sehingga untuk main aman, mereka mencari jalan pintas dengan cara membuka keran impor sebesar-besarnya, ironisnya barang-barang kebutuhan yang kita impor itu kebanyakan adalah komoditi produksi andalan negara agraris seperti kita, contohnya impor gandum, kedelai, beras, bahkan hingga garam. Ironisnya negara kita yang notabene adalah negara kepulauan harus menanggung kenyataan yang menyedihkan, yaitu mengimpor garam, memang pada pergi kemana para petani garam kita?

         Ternyata reformasi yang telah berjalan sekian tahun ini baru memasuki babak awal, reformasi yang menumbangkan rezim pembangunan Orde Baru yang berakhir kelam ini bahkan belum bisa menyamai prestasi para petinggi Orde Baru. Meski ada kemajuan di beberapa bidang lain, tapi yang saya garisbawahi disini adalah kenyataan kita sampai sekarang belum bisa menyelenggarakan swasembada pangan sebagaimana telah dilakukan Ir. Soeharto dan kroni-kroninya. Bahkan pemerintah sekarang tidak jelas mau dibawa kemana rakyat Indonesia, programnya berjalan setengah-setengah, dana APBD dikorupsi tdak cuma keluarga, bahkan bawahan, karib kerabat dan teman-teman. Istilahnya APBD dipakai bancaan.

         Sebagai pembanding saja, cobalah kita tengok sedikit bagaimana Bapak Presiden Soeharto membangun Indonesia dengan perencanaan yang matang dan jelas. Rakyat bahkan tahu mau dibawa kemana negara Indonesia. Perencanaan itu diawasi, dituntun dan dievaluasi dengan acuan lima tahun yang terkenal dengan PELITA. Dari semua keberhasilan itu, saya hanya ingin sedikit membahas tentang bagaimana pemerintah saat itu mampu menjaga dan menstabilkan harga-harga, terutama untuk makanan dan kebutuhan pokok. Saat itu, pemerintah membuat suatu sistem yang dibentuk dari pusat hingga tingkat desa, suatu sistem terkomando yang berfungsi untuk mengorganisir dan mengakomodir hasil bumi rakyat yang mayoritas berupa padi dan palawija. Kemudian, hasil pertanian tersebut dikumpulkan dalam suatu koperasi desa yang bertujuan untuk menghindari pembelian sistem ijon dari para broker, dari koperasi desa, sembako tersebut kemudian disetor ke pusat dan dikumpulkan di BULOG(Badan Urusan Logistik). Dengan begitu, para broker tidak akan bisa mempermainkan harga sembako, karena pemerintah memiliki persediaan sembako yang begitu banyak yang siap dikeluarkan kapan saja. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, untuk menurunkan harga barang yang begitu tinggi, bisa dilakukan dengan menaikkan penawaran. Sehingga harga sembako saat itu benar-benar murah dan terjangkau.

         Selain itu, untuk menaikkan kualitas sembako yang dihasilkan, pemerintah melakukan pembinaan dan pelatihan yang diorganisir oleh suatu badan yang dibentuk up-down hingga tingkat kecamatan. Dengan begitu, hasil pertanian benar-benar masuk kas negara dan masyarakat mendapat perhatian yang baik dari pemerintah.

         Sekarang kita lihat pemerintah kita saat ini, dengan membuka keran impor, mereka berusaha menutupi kekurangan sembako nasional. Padahal sebenarnya bukan kekurangan, hanya hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Hal itu disebabkan oleh pertama, karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat petani, untuk pupuk dan benih saja terkadang mereka masih haus membayar mahal, pelatihan hanya diperoleh dari nenek moyang secara turun temurun. Padahal jika proses pengolahan dilakukan dengan teknologi, hasilnya pasti akan lebih bagus dan maksimal.

         Kedua, karena pemerintah ingin mencari jalan tengah yang aman. Berbeda dengan pak Harto yang begitu gencarnya menggalang dana, bahkan dengan hutang. Meski terkesan berisiko tinggi, tapi pemerintah ORBA berani mengambil itu. Dengan dana segitu, pemerintah ORBA membangun negara dengan sebegitu cepatnya. Meski akhirnya gara-gara ulah pemerintah ORBA itu, sampai sekarang Indonesia masih terlilit utang, kita cuma belajar mengambil sisi positif dari ketegasan dan kecepatan pemerintah ORBA dalam menstabilkan kondisi Indonesia saat itu.

         Seandainya pemerintah Indonesia sekarang bisa sedikit lebih berani mengambil risiko untuk memndidik dan membangun rakyat Indonesia, bukan mustahil beberapa tahun ke depan, kita bisa melihat Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dunia.