Sekarang Jam ...

WELCOME

Hidup adalah Sebuah Pilihan...

Terbang atau Terinjak...

Sabtu, 10 November 2012

ALZHEIMER

 A.   Asal Usul
Perbandingan otak normal dan alzheimer
            Penyakit alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1907 oleh seorang ahli Psikiatri dan neuropatologi yang bernama Alois Alzheimer. Ia mengobservasi seorang wanita berumur 51 tahun, yang mengalami gangguan intelektual dan memori serta tidak mengetahui kembali tempat tinggalnya, sedangkan wanita itu tidak mengalami gangguan anggota gerak, koordinasi dan refleks. Pada autopsi awal, tampak bagian otak wanita tersebut mengalami atropi yang difus dan simetri, dan secara mikroskopik tampak bagian korteks otak mengalami neuritis plaque dan degenerasi neurofibrillary.
Pada dasarnya, Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan adalah sejenis penyakit neurodegeneratif karena apoptosis (kematian) sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil.
Secara epidemiologi, penyakit alzheimer terbagi 2 kelompok yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang 58 tahun disebut sebagai early onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58 tahun disebut sebagai late onset.
Berdasarkan jenis kelamin, wanita tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan laki-laki.
Sedangkan menurut beberapa ahli, risiko untuk mengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan usia. Bermula pada usia 65 tahun, seseorang mempunyai risiko 5% mengidap penyakit ini dan akan meningkat dua kali lipat setiap lima tahun..
B.    Penyebab
·       Faktor genetik
Beberapa peneliti mengungkapkan 50% kasus alzheimer ini diturunkan melalui gen autosomal dominant.
Gen tersebut adalah clusterin, complement receptor 1 (CR1), dan PICALM, yang diduga merupakan tipe gen yang paling banyak ditemukan pada 90 persen kasus Alzheimer.
Gen lain yang juga berkaitan dengan penyakit yang menyebabkan kepikunan di usia lanjut ini adalah apolipoprotein E (ApoE) yang diidentifikasi pada tahun 1993 sejak para ahli mengetahui bahwa kemunduran fungsi otak terkait dengan faktor genetik..
·         Faktor infeksi
Ada hipotesa menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga penderita alzheimer yang dilakukan secara immuno blot analisis, ternyata diketemukan adanya antibodi reaktif. Infeksi virus tersebut menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat yang bersifat lambat, kronik dan remisi.
·         Faktor lingkungan
Faktor lingkungan juga dapat berperan dalam munculnya penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antara lain, aluminium, silicon, mercury, zinc. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat. Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadaan ketidakseimbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium.
Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler (Cairan-influks) dan menyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan kematian neuron.
·         Faktor trauma
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit alzheimer dengan trauma kepala. Hal ini dihubungkan dengan petinju yang menderita demensia pugilistik.

C.  Diagnosis
Gejala-gejala Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat. Di antara tanda-tanda munculnya penyakit Alzheimer adalah :
  • Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan.
  • Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan.
  • Kesulitan bicara dan berbahasa.
  • Disorientasi waktu, tempat dan orang.
  • Kesulitan mengambil keputusan yang tepat.
  • Perubahan perasaan, kepribadian dan perilaku.
  • Hilangnya minat dan inisiatif.
D.   Penanganan
Berdasarkan penelitian para ahli, mereka merekomendasikan beberapa obat di bawah ini untuk menangani sementara penyakit Alzheimer, kebanyakan merupakan penghambat kolinesterase yaitu :
  • Galantamine HBr
Galantamine diberikan dengan dosis rendah pada awalnya yaitu 4 mg dua kali sehari untuk beberapa minggu dan dilanjutkan dengan 8 mg dua kali sehari untuk beberapa minggu pengobatan selanjutnya. Meskipun demikian, beberapa pasien membutuhkan dosis yang lebih besar.
Efek samping yang sering terjadi dari Galantamine adalah mual, muntah, diare, anoreksia, kehilangan berat badan. Efek samping ini umumnya terjadi pada awal pengobatan atau ketika dosis ditingkatkan, umumnya ringan dan bersifat sementara.
  • Donepezil
Donepezil adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium. Donepezil tersedia dalam bentuk tablet oral. Biasanya diminum satu kali sehari sebelum tidur, sebelum atau sesudah makan. Biasanya diberikan dosis rendah pada awalnya lalu ditingkatkan setelah 4 hingga 6 minggu.
Efek samping yang sering terjadi sewaktu minum Donepezil adalah sakit kepala, nyeri seluruh badan, lesu, mengantuk, mual, muntah, diare, nafsu makan hilang, berat badan turun, kram, nyeri sendi, insomnia, dan meningkatkan frekuensi buang air kecil.
  • Memantine
Memantin adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzhaimer taraf sedang hingga berat, dengan mekanisme kerja yang berbeda dan unik dengan memperbaiki proses sinyal Glutamat. Obat ini diawali dengan dosis rendah 5 mg setiap minggu dilakukan selama 3 minggu untuk mencapai dosis optimal 20 mg/hari.
E.    Pencegahan
Beberapa aktivitas yang disebut-sebut bermanfaat bagi otak untuk mencegah terkena penyakit Alzheimer antara lain :

·         Mengonsumsi minyak ikan.
·         Berolahraga rutin.
·         Mengisi teka teki silang.
·         Membaca buku.
Beberapa ahli menyatakan, suplemen, obat atau interaksi sosial belum terbukti dapat mencegah penyakit degenerasi otak tersebut. Mereka mengamati dan melakukan puluhan riset yang menunjukkan cara-cara untuk mencegah Alzheimer, Tetapi belum menemukan satu pun bukti yang cukup kuat akan dampaknya bagi pencegahan.

Tidak ada komentar: